Jumat, 04 Juni 2010

Untuk menghadapi tantangan persaingan

Ketika krisis moneter melanda Negara kita beberapa waktu lalu, bayak orang yang pekerjaan. Sebagian lalu mencoba memulai usaha sendiri agar dapat bertahan dan memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga.

Usaha yang paling menjamur saat itu ialah munculnya kafe tenda di mana-mana. Namun, saat ini hanya segelintir yang tetap bertahan bahkan dapat melebarkan usaha makin luas. Mereka yang mampu bertahan adalah yang terus belajar dan melakukan berbagai inovasi dan pengembangan.

Jika memiliki sikap belajar yang positif, kita tidak akan gentar untuk menghadapi persaingan. Bahkan persaingan menjadi suatu dorongan untuk lebih meningkatkan diri agar mencapai yang terbaik.

Ezra, Jakoep. 2008. Success trough character. Yogyakarta: ANDI.

Agar dapat menyikapi kritik secara positif

Selain sambal atau cabe, kritik juga ternyata sering disebut “pedas”. Karena itu banyak orang yang sulit menerima atau bahkan tidak tahan terhadap kritik. Respons yang timbul saat dikritik biasanya bersifat pembelaan atau pembenaran diri. Mengapa demikian?

Karena sejak kecil kita terbiasa takut dipersalahkan. Kita tidak ingin menjadi kambing hitam da tumpuan kesalahan. Karena kita merasa dihakimi, ditolak, dan dikucilkan. Karena kesalahan atau kekeliruan dianggap sebagai momok dan kegagalan yang fatal.

Memiliki sikap pembelajaran yang baik membuat kita mampu menghadapi kritik secara positif dan benar. Karena kritik merupakan evaluasi dan peluang untuk menjadi lebih baik lagi.

Ezra, Jakoep. 2008. Success trough character. Yogyakarta: ANDI.

Mengapa kita harus memiliki tujuan hidup ?

Menemukan dan memiliki tujuan hidup yang benar dan tepat, lebih dari sekedar menjalani kehidupan yang rutin dan biasa-biasa saja. Tujuan hidup mendasari semua tujuan semua tujuan sementara yang ada. Tujuan hidup yang hakiki bersifat hikmah dan amanah.

Pierre Renoir seorang pelukis Perancis yang terkenal. Di masa tuanya, Renior menderita penyakit artistis yang parah dan membuat tanganya kejang dan gemetar. Meskipun sangat menderita dan kesakitan, namun ia tetap berusaha melukis dan memegang kuas dengan ujung jari-jarinya.

Sahabatnya, Henry Matisse memandang sedih tanpa dapat berbuat apa- apa. Matisse lalu bertanya mengapa Renior tetap bersikeras untuk terus melukis padahal itu membuatnya merasa kesakitan dan sangat menderita. Renior hanya menjawab singkat : “Rasa sakit akan berlalu, namun keindahan tetap abadi”.

Bagi Renior itulah makna dari hidup yang memiliki tujuan. Baginya melukis adalah sutau panggilan hidup. Ada kerelaan untuk meninggalkan zona nyaman pribadi, agar bisa mempersembahkan sesuatu yang lebih berarti dalam hidup.

Ezra, Jakoep. 2008. Success trough character. Yogyakarta: ANDI.

Selasa, 01 Juni 2010

Tanda-tanda gangguan campuran reseptif-ekspresif

1. Kesulitan anak dengan komunikasi lisan dan berkomunikasi dengan orang lain

2. Anak tidak memiliki masalah dengan pengucapan kata-kata, yang ditemukan dalam gangguan fonologis .

3. Anak, bagaimanapun, memiliki masalah membangun kalimat yang koheren, menggunakan tata bahasa yang benar, mengingat kata-kata, atau masalah komunikasi yang sama.

4. Seorang anak dengan gangguan bahasa ekspresif-reseptif campuran ini tidak mampu berkomunikasi pikiran, kebutuhan, atau ingin pada tingkat yang sama atau dengan kompleksitas nya sama atau teman-temannya.

5. Selain itu, anak sering kali memiliki kosakata yang lebih kecil dari atau dia teman-temannya.

6. Kurangnya pemahaman ini dapat menghasilkan respons yang tidak tepat atau kegagalan untuk mengikuti arah.

7. Beberapa orang berpikir anak-anak ini sengaja keras kepala atau menjengkelkan, tapi ini tidak terjadi.

8. Mereka tidak mengerti apa yang dikatakan. Beberapa anak dengan gangguan ini memiliki masalah pemahaman jenis tertentu seperti istilah sebagai kata benda abstrak, kalimat yang rumit, atau istilah spasial.

Sadock, Benjamin J. Sadock dan Virginia A. 2000. Komprehensif. Textbook of Psychiatry 7 ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.

Tahap perkembangan bahasa reseptif-ekspresif Myklebust:

1. Lahir – 9 bulan : anak mulai mendengar dan mengerti, kemudian berkembanglah pengertian konseptual yang sebagian besar nonverbal.

2. Sampai 12 bulan : anak berbahasa reseptif auditorik, belajar mengerti apa yang dikatakan, pada umur 9 bulan belajar meniru kata-kata spesifik misalnya dada, muh, kemudian menjadi mama, papa.

3. Sampai 7 tahun : anak berbahasa ekspresif auditorik termasuk persepsi auditorik kata-kata dan menirukan suara. Pada masa ini terjadi perkembangan bicara dan penguasaan pasif kosa kata sekitar 3000 buah.

4. Umur 6 tahun dan seterusnya : anak berbahasa reseptif visual (membaca). Pada saat masuk sekolah ia belajar membandingkan bentuk tulisan dan bunyi perkataan.

5. Umur 6 tahun dan seterusnya : anak berbahasa ekspresif visual (mengeja dan menulis).




Myklebust M. Prelinguistic Communication. In: Yule W, Rutter M,eds. Language development and disorders; Clinics in developmental medicine. 1968

Penyebab gangguan reseptif-ekspresif

Sampai sekarang penyebab reseptif-ekspresif bahasa campuran dalam gangguan perkembangan belum diketahui. Para peneliti sedang melakukan penelitian yang berkelanjutan untuk menentukan apakah faktor lingkungan fisiologis yang mungkin terlibat. Bentuk diperoleh dari hasil gangguan dari kerusakan langsung ke otak.Kerusakan dapat dipertahankan selama stroke, atau sebagai akibat dari cedera kepala traumatis, kejang , atau kondisi medis lainnya. Gejala spesifik bentuk gangguan diperoleh umumnya tergantung pada bagian otak pasien yang telah terluka dan beratnya kerusakan.



Sadock, Benjamin J. Sadock dan Virginia A. 2000. Komprehensif. Textbook of Psychiatry 7 ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.

Gangguan reseptif – ekspresif

Mencakup permasalahan gangguan bahasa dan kesulitan mengerti dan menerima kata-kata dan kalimat serta menentukan maknanya. Dua gangguan tersebut gampang muncul disaat lahir dan pada proses perkembangan atau keduanya diperoleh sebagai akibat cedera neurologis atau cedera pada otak. Kelainan ini juga bisa disebabkan karena adanya lesi pada bagian posterior dari grilus frontalis inferior yaitu sekitar daerah broca. Selain cirri gangguan bicara ekspretif, anak-anak ini juga mempunyai kesulitan mengartikan ucapan orang lain, terutama yang bersifat abstrak. Mereka sering salah mengartikan pertanyaan, komentar, atau cerita yang panjang.

Kriteria diagnosis memerlukan intelegensi non-verbal yang normal. Prognosis kurang baik dibandingkan gangguan berbahasa ekspretif. Pada masa sekolah mereka akan tertinggal oleh teman sebayanya. Karena komprehensi kurang baik, dapat muncul gangguan atensi. Kira-kira 40-60% akan mengalami gangguan fonologi, sedangkan 50% mengalami gangguan membaca. Masalah bahasa, dikombinasi dengan kesulitan membaca atau atensi akan menyebabkan lingkaran setan kemampuan akademik yang kurang, rasa percaya diri yang rendah, motivasi yang rendah dan isolasi sosial pada 70% kasus. Mereka akan dapat berbicara, tetapi terlambat dibandingkan anak sebayanya. Pada masa dewasa, kemampuan bicara cukup untuk komunikasi sehari-hari, tetapi mereka tetap menunjukan kesulitan bila harus mengartikan atau menceritakan suatu masalah yang kompleks.

Muttaqin, Ajar. 2008. Asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem persyarafan. Jakarta : Salemba medika.

Pusponegoro HD. 2001. Gangguan komunikasi Makalah pada pertemuan Ilmiah Tahunan. Palembang : Ikatan Dokter Anak Indonesia.