Minggu, 27 Februari 2011

Pentingnya Keluarga dalam Perkembangan Sosialisasi Anak

Anak mempunyai kewajiban untuk menghormati dan patuh pada orangtua dan sebaliknya orangtua berkewajiban juga memberikan cinta, perhatian dan kasih sayang pada anaknya. Hal ini sejalan dengan apa yang ditulis Parson & Bales (1955) dalam Megawangi (1999), bahwa orangtua mempunyai dua peran, yaitu 1) Instrumental, yang dilakukan oleh bapak sebagai suami dan 2) peran emosional atau ekspresif, yang biasanya disandang oleh seorang ibu sebagai istri. Kedua peran tersebut dijalankan oleh keluarga yang juga merupakan intsitusi dasar (fundamental unit of society) dalam rangka membentuk individu bertanggung jawab, mandiri, kreatif dan hormat melalui proses sosialisasi terus menerus kepada anak-anaknya. Sedang bila dilihat menurut fungsinya, keluarga salah satunya berperan dalam melaksanakan proses sosialisasi. Zanden (1986) menyatakan bahwa fungsi keluarga adalah sebagai wahana terjadinya sosialisasi antara individu dengan warga yang lebih besar. Sama halnya dengan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah RI no.21 tahun 1994 tentang penyelenggaraan pembangunan keluarga sejahtera, salah satu fungsi dari delapan yang ada adalah sosialisasi dan pendidikan, yaitu fungsi yang memberikan peran kepada keluarga untuk mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan alam kehidupannya dimasa mendatang.

Sosialisasi merupakan suatu proses dimana seseorang mempengaruhi orang lain karena adanya interaksi. Untuk perkembangan sosial anak akan sangat dipengaruhi siapa agen sosialnya. agen sosial yang terpenting adalah orang-orang yang saling berhubungan dan dapat mempengaruhi bagaimana orang tersebut berperilaku, temasuk di sini adalah orangtua, saudara kandung (sibling) atau kelompok bermain (peer); selain itu nenek/kakek, paman/bibi dan orang dewasa lain dalam masyarakat sebagai jaringan hubungan yang lebih luas. Setiap agen sosial tersebut akan menentukan perbedaan dalam proses sosialisasi anak. Oleh karena itulah untuk menghasilkan individu-individu yang berkualitas baik, keluarga amat berperan dalam mensosialisasi nilai-nilai kebaikan dan norma yang berlaku atau yang diharapkan masyarakat kepada anak mereka yang dimulai dari masalah-masalah kecil yang terjadi dalam keluarga sesuai dengan tahap perkembangan usia anak tentunya. Praktek pengasuhan merupakan masa penting dalam membentuk individu matang dan dewasa, yang didalamnya telah mencakup proses sosialisasi.

Cara yang dapat dilakukan keluarga dalam proses sosialisasi adalah sebagai berikut:

* Pertama, pengkondisian/pelaziman. Karena kita tahu dan tidak dapat disangkal lagi bahwa anak ialah manusia yang pasif sepenuhnya dalam sosialisasi, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan sebagian besar sikap dan tingkah lakunya dilakukan sebenarnya melalui proses ini, yang diciptakan oleh orangtua atau anggota keluarga lain yang telah dewasa dengan pemberian mekanisme hukuman atau imbalan; semisal, makan, minum, mandi, berpakaian, buang air besar/kecil (toilet training) bahkan bertutur kata sekalipun. Dengan diberikannya mekanisme tersebut anak akan mempertahankan tingkah laku tertentu bila apa yang dilakukan/diperbuat (baik) dapat imbalan. Sebaliknya anak akan menghindari tingkah laku tertentu bila ternyata apa yang diperbuat (buruk) akan mendapatkanhukuman.
* Kedua, pemodelan (pengimitasian dan pengindentifikasian). Cara imitasi biasanya berlangsung dalam waktu singkat untuk sekedar meniru aspek luar dari tokoh/model yang diidealkannya. Sebaliknya, jika anak menginginkan dirinya sama (identik) dengan tokoh idolanya maka peniruan akan terjadi lebih mendalam karena tidak hanya peniruan tingkah laku tapi juga totalitas dari tokoh atau model tersebut (identifikasi) sehingga di sini orangtua (keluarga) perlu memberi contoh perilaku yang baik bagi anaknya.
Dan ketiga, internalisasi yaitu cara yang mempersyaratkan anak (dengan sukarela) untuk menyadari bahwa sesuatu hal, seperti norma, nilai dan tingkah laku memiliki makna tertentu yang berharga bagi dirinya atau bagi masyarakat kelak untuk dijadikan panutan, pedoman atau tindakan yang lama kelamaan hal tersebut akan menjadi bagian dari kepribadiannya, semisal anak dicontohkan dengan perbuatan-perbuatn yang dilarang agama atau yang tidak diharapkan masyarakat pada umumnya.
Anak sebagai bagian anggota keluarga dalam pertumbuhan dan perkembangannya tidak akan terlepas dari lingkungan dimana dia dirawat/diasuh atau awal diperolehnya pengalaman belajar bagi seorang anak. Dalam keluargalah kali pertama anak berinteraksi terutama dengan ibunya setelah anak dilahirkan dan melalui kegiatan menyusui. Hubungan ini akan berkembang sesuai tahapan usia anak. Dari sinilah anak akan dan selalu berusaha untuk menyesuaikan diri melalui pengalaman belajar agar diterima di lingkungan sosial dan menjadi pribadi yang dapat bermasyarakat; dengan syarat punya kesempatan untuk berhubungan dengan orang lain (sosialisasi), mampu berkomunikasi dan berbicara yang dapat diterima (dimengerti) orang lain dan memiliki motivasi belajar yang menyenangkan. Untuk hal ini diperlukan suatu dukungan orang lain, karena pengalaman sosial dini kali pertama diperoleh di dalam rumah maka keluargalah yang paling tepat menentukan terjadinya proses sosialisasi pada anak.
Karena keluarga berfungsi untuk menjaga dan menumbuh-kembangkan anggotanya, maka diperlukan orangtua yang bijaksana, sebab sikap orangtua akan mempengaruhi cara mereka memperlakukan anak dan mempengaruhi perilaku anak. Pada dasarnya hubungannya orangtua-anak tergantung pada sikap orangtua, dimana hal ini juga diperoleh melalui pengalaman belajar sebelumnya dari orangtua mereka.

Sumber : http://astaqauliyah.com/2007/02/keluarga-dan-hubungannya-dengan-sosialisasi-pada-anak

Jumat, 08 Oktober 2010

Komunitas Persekutuan Doa Gunadarma Kalimalang

Komunitas Pesekutuan Doa Gunadarma Kalimalang (UKM Rokhris)

Pesekutuan Doa (PD) adalah suatu perkumpulan yang berisikan orang-orang yang memiliki keyakinan yang sama yang didalamnya saling beribadah bersama, saling memotivasi satu dengan yang lain, dan sama-sama bertumbuh dalam satu kepercayaan.

Sejarah

Pesekutuan Doa (PD) Kalimalang dimulai dari kerinduan anak-anak muda Kristen yang ada di Gunadarma, dengan membentuk suatu komunitas kecil dalam kampus. PD Kalimalang berdiri semenjak 23 September 2005, yang mendirikan adalah tim (pengurus) dari Depok yang didalamnya PD sudah ada semenjak 1987an. Mereka rindu untuk mendirikan persekutuan di Kalimalang seperti yang ada di depok. Pertama-tama mereka bergerak dengan mengetok setiap kelas yang ada di Kalimalang bermaksud untuk mengajak anak-anak muda kristen ikut dalam ibadah. Pada tahun pertama jumlah jemaat yang ikut dan aktif didalamnya tidaklah banyak, kira-kira hanya beranggotakan 18 orang. Hingga saat ini perkembangan dan pertumbuhannya semakin naik dengan jumlah jemaat yang aktif 150 orang.

Persekutuan Doa dibentuk dari beberapa struktur kepengurusan yang dibentuk setiap pergantian periode kepemimpinan. Hal yang dijunjung tinggi didalam persekutuan doa Gunadarma adalah kepribadian yang berguna dan takut akan Tuhan. Selain itu terdapat standarisasi kepelayanan yang diterapkan, adapun nilai-nilai yang diterapkan dalam persekutuan Doa ini harus mengikuti nilai-nilai tersebut dengan konsekuensi yang ada. Nilai-nilai yang diterapkan bertujuan untuk menghasilkan orang-orang yang berani dan siap menjadi berkat bagi banyak orang.

Perkembangan

A. Mengadakan Retreat setipa tahun, dengan tema :

· 2005 : Extreme Generation

· 2006 :

· 2007 : You’re the leader

· 2008 : Breaktrough generation

· 2009 : Unbeatable generation

B. Mengadakan acara Natal setiap tahun, dengan tema :

· 2005 : Jesus is a true light

· 2006 :

· 2007 :

· 2008 : Bless to be a blessing

· 2009 : Yesus layak disembah

C. Mengadakan komunitas-komunitas diantaranya : komunitas belajar, komunitas futsal, komunitas multimedia.

D. Mengadakan GMK (Gerakan Memberkati Kampus)

E. Menjalin hubungan ORMAWA (Organisasi Mahasiswa) dengan kamous maupun diluar. Berhubungan baik dengan BEM dan BEF.

Jumat, 04 Juni 2010

Penyebab Fobia sekolah

Penyebab fobia sekolah umumnya disebabkan oleh pengalaman psikologis. Orang tua akan mudah menerima alasan anaknya yang tidak mau sekolah apabila fobia ini terjadi pada anak-anak yang pemalu, kurang bergaul, sulit menerima kehadiran orang lain. orang tua menganggapnya wajar dan mendiamkan anak sehingga anak lama tinggal dirumah. Apabila terus-terusan terjadi, anak akan menjadi fobia terhadap sekolah. Bisa juga anak takut ke sekolah setelah sekian lama dirumah karena mambayangkan akan berhadapan dengan berbagai macam pertanyaan guru disekolah, teman sekelasnya atau bahkan orang lain yang mengenal dirinya. Pertanyaan ini semakin merisaukan anak yang pemalu tadi.

Kecendrungan fobia pada sekolah juga terdapat pada anak yang terlalu dimanja oleh orang tuanya. Semua keinginannya diikuti agar anak jangan sampai frustasi. Orang tua jenis ini sangat menyayangi anaknya. Bisa jadi anak menjadi tidak mandiri. Sehingga begitu anak memasuki situasi yang berbeda dengan keadaan rumah seperti sekolah, maka anak menjadi terancam dirinya. Ia tidak dapat bebas karena terikat dengan peraturan.

Akbar, Reni., Hawadi. 2001. Psikologi perkembangan anak. Jakarta : Gramedia.

.

Fobia sekolah

Hmmm … mendadak timbul pertanyaan dalam diri saya, “mengapa anak usia 5 tahun sudah enggan sekolah?” Rasanya, saat saya kecil dulu, saya suka sekali sekolah TK. Walau belum waktunya sekolah -karena masih berumur 4 tahun - saya sudah minta sekolah. Akhirnya, orangtua saya mengalah. Saya didaftarkan di sekolah yang dekat dengan rumah dan diterimalah saya di sekolah itu sebagai anak pupuk bawang !

Memang akhir-akhir ini, sering dijumpai anak prasekolah (belum SD) sudah mengalami peristiwa mogok sekolah. Sewaktu saya masih mengajar di TK-PG, saya juga mengalami hal yang sama dengan murid-murid saya. Kebanyakan mogok sekolah ini terjadi pada hari Senin, setelah libur Sabtu dan Minggu atau setelah liburan panjang. Ada apa ya ?

Mogok sekolah atau dalam bahasa kerennya, School Refusal, adalah kejadian dimana seorang siswa mengalami keengganan untuk datang ke sekolah karena suatu sebab. Mogok sekolah ini kasus yang masih ringan dibandingkan dengan fobia sekolah. Fobia sekolah / School Phobia biasanya lebih sering disertai dengan gejala fisik misalnya tiba-tiba sakit kepala, muntah, sakit perut dan perasaan tegang, takut yang berlebihan ketika akan masuk sekolah. Mogok sekolah yang kurang ditangani dengan baik biasanya akan berkembang menjadi fobia sekolah.

Fobia sekolah adalah jenis fobia yang dianggap oleh para psikolog sebagai sesuatu yang tidak normal. Fobia semacam ini ditunjukkan sebagai bentuk penolakan atau secara ekstrem enggan bersekolah. Anak yang mengalami fobia ini sering membuat berbagai alasan agar diizinkan tidak masuk sekolah, seperti mengeluh sakit dan terluka. Tingkatan dan Jenis Penolakan Terhadap Sekolah. Para ahli menunjuk adanya beberapa tingkatan school refusal, mulai dari yang ringan hingga yang berat (fobia), yaitu :
1. Initial school refusal behavior
adalah sikap menolak sekolah yang berlangsung dalam waktu yang sangat singkat (seketika/tiba-tiba) yang berakhir dengan sendirinya tanpa perlu penanganan.
2. Substantial school refusal behavior
adalah sikap penolakan yang berlangsung selama minimal 2 minggu.
3. Acute school refusal behavior
adalah sikap penolakan yang bisa berlangsung 2 minggu hingga 1 tahun, dan selama itu anak mengalami masalah setiap kali hendak berangkat sekolah
4. Chronic school refusal behavior
adalah sikap penolakan yang berlangsung lebih dari setahun, bahkan selama anak tersebut bersekolah di tempat itu.

Steede, Kevin. 1998. 10 kesalahan orang tua dalam mendidik anak. Alih bahasa : Gogona Gultom. Jakarta : Tangga Pustaka

Kriteria DSM IV untuk gangguan fonologis

kriteria untuk gangguan fonologis adalah sebagai berikut:

  • Kegagalan untuk menggunakan pidato suara diharapkan tahapan perkembangan yang sesuai untuk usia dan dialek (misalnya, kesalahan dalam produksi suara, gunakan, representasi, atau organisasi seperti, namun tidak terbatas pada, substitusi satu suara untuk penggunaan lain [dari / t / untuk target / k /] suara atau kelalaian suara seperti konsonan akhir).
  • Kesulitan dalam produksi ujaran suara mengganggu prestasi akademis atau pekerjaan atau dengan komunikasi sosial.
  • Jika Mental Retardasi, pidato-motor atau defisit sensorik, atau perampasan lingkungan hadir, kesulitan bicara yang lebih dari yang biasanya terkait dengan masalah ini

Ballas Paulus, DO, Departemen Psikiatri, Thomas Jefferson University Hospital, Philadelphia, PA. Review provided by VeriMed Healthcare Network. Review disediakan oleh VeriMed Jaringan Kesehatan.

Gangguan Fonologis

Gangguan fonologis adalah ketidakmampuan secara konsisten untuk mengeluarkan artikulasi yang benar-benar bagi bunyi – bunyi ujaran pada usia perkembangan yang seharusnya. Gangguan fonologis melibatkan kesulitan dalam belajar dan mengatur suara yang diperlukan untuk berbicara jelas, membaca dan ejaan. Gangguan ini mencakup masalah dalam artikulasi atau menghasilkan suara yang merupakan bagian dari bicara. Mereka adalah gangguan yang cenderung berjalan dalam keluarga. Gejala:

  • Kegagalan untuk menghasilkan dan gunakan suara tepat
  • Mengganti satu suara untuk lain
  • Menghilangkan suara

Ballas Paulus, DO, Departemen Psikiatri, Thomas Jefferson University Hospital, Philadelphia, PA. Review provided by VeriMed Healthcare Network. Review disediakan oleh VeriMed Jaringan Kesehatan.

Videbeck, Sheila.L. 2001. Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta: EGC.