Selasa, 01 Juni 2010

Ciri-ciri anak yang mengalami gangguan reseptif

Berikut adalah beberapa cirri-ciri dan gejal-gejala yang nampak pada anak yang menderita gangguan reseptif :

  1. tidak mampu memulai suatu percakapan dengan orang lain
  2. menggunakan kata-kata yang kurang tepat di setiap perbincangan
  3. tidak sanggup mengungkapkan kembali informasi yang diterima kepada orang lain
  4. bergantung dan hanya terfous kepada frase dan kalimat-kalimat yang sederhana
  5. kesalahan dalam penulisan dan gramatikal suatu kalimat atau perbincangan
  6. kesulitan menggunakan bahasa lisan
  7. menggunakan kata-kata yang salah dalam pidato dan tugas-tugas di sekolah



Hidayat, Aziz.A. 2007. Siapa bilang anak cerdas sehat pasti cerdas. Jakarta : Elex Media Komputindo.

Gangguan Reseptif

Gangguan reseptif, adalah gangguan berupa kesulitan dalam memahami bahasa lisan. Dalam kasus yang ringan anak-anak mengalami kesulitan dalam memahami kata-kata tertentu, seperti kata-kata yang mengungkapkan perbedaan kata-kata tertentu. Sepeerti kata-kata yang membedakan kata-kata yang berdefinisikan kuantitas (luas, besar, sama, banyak atau kalimat-kalimat tertentu).

Dalam kasus-kasus yang lebih berat individu mengalami kesulitan dalam memahami kata-kata atau kalimat-kalimat sederhana. Gangguan ini biasanya kelihatan pada anak usia 4 tahun. Meskipun kasus-kasus yang lebih berat dapat ditemukan lebih awal. Anak-anak yang mengalami gangguan ini dalam bentuk-bentuk yang hampir tidak kelihatan mungkin baru dapat diketahui pada usia 7 tahun.

Gangguan reseptif juga merupakan gangguan dalam tipe mengembangkan pengertian bahasa (decoding). Dan ekspresi vocal bahasa (encoding), yang merupakan gangguan dalam persepsi sensorik yaitu pengenalan sistem sensorik, yaitu pengenalan sistem visual atau auditorik bukan karena retardasi mental, autisme ataupun yang lain.



Semiun, Yustinus. OFM. 2006. Kesehatan mental 1. yogyakarta : Kanisius.

Hidayat, Aziz.A. 2007. Siapa bilang anak cerdas sehat pasti cerdas. Jakarta : Elex Media Komputindo.

Terapi untuk si gagap

Terapi untuk anak gagap terbagi dua, yaitu terapi psikis yang dibantu oleh psikiater dan terapi wicara. Biasanya terapi ini dapat dijumpai di rumah-rumah sakit besar yang mempunyai pusat rehabiltasi medik dan juga klinik-klinik khusus terapi wicara. Tujuan utama terapi adalah membantu penderita gagap agar dapat berbicara dan berkomunikasi secara santai, walaupun ada perpanjangan namun tidak kelihatan.

Bagi penderita gagap berat, terapi yang diberikan pertama kali adalah mengubah cara berbicara dari yang selalu gugup dan terlalu cepat menjadi lebih tenang. Terapis akan mengajari cara bernafas campuran perut dan dada. Biasanya penderita gagap memakai pernapasan dada yang tidak baik. Untuk berbicara. Penderita juga diajak untuk mengubah penilaian terhadap dirinya sendiri. Terapis menganjurkan para penderita melukiskan kelebihan dan kekurangannya pada secarik kertas. Penderita diajak untuk mengubah pandangan negatif dari lingkungan terhadap dirinya sendiri. Sehingga, mereka disarankan untuk lebih banyak berkomunikasi dengan orang lain disekitarnya.

Secondary suttering bisa sembuh, tapi ketika menerima stressor yang terlalu berta, gagap itu akan kembali muncul. Hal ini jangan terlalu dikhawatirkan karena bisa diatasi oleh penderita sendiri. Kalaupun perlu konsultasi dengan terapis, hanya memerlukan dua sampai tiga kali pertemuan. Waktu yang diperlukan penderita gagap untuk mencapai kesembuhan tidak terlalu lama. Hal ini tergantung pada kemauan, keinginan, dan usaha penderita untuk sembuh. Kemampuan individu berdasarkan pengamatan punya peranan penting untuk mempercepat kesembuhan. Penderita yang bersekolah disekolah normal kemungkinan untuk sembuh lebih besar dibanding yang bersekolah di SLB. Kebanyakan anak-anak penderita gagap memiliki IQ yang cukup.



Seri buah hati. 2003. Biarkan anak berbicara. Jakarta : Republika

Gagap

Gangguan fonologis mencakup masalah dalam artikulasi. Gangguan gagap adalah gangguan pola waktu dan kefasihan berbicara yang biasa terjadi. Kedua gangguan komunikasi tersebut terjadi pada keluarga dan sering terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan. Ahli terapi bahasa dan bicara menangani anak-anak untuk meningkatkan keterampilan komunikasi dan mengajarkan orang tua untuk melanjutkan kegiatan terapi berbicara di rumah.
Gagap secara sederhana terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu : gagap permulaan (primary suttering), gagap transisi atau peralihan, dan gagap yang sebenarnya (secondary suttering). Gagap permulaan biasa disebut gagap ringan, biasanya diderita anak berumur 3 atau 4 tahun. Dan belum sadar dengan kegagapannya. Walaupun ia telah melakukan pengulangan dan perpanjangan tapi ia tidak takut berbicara karena ketidaksadarannya itu. Biasanya yang menyebabkan si penderita merasa gagap adalah telinga orang lain, yang mulai mengingatkannya.
Pada tahapan gagap transisi sebenarnya penderita masih bisa bergaul dengan lingkungannya, tapi karena sudah merasa ada kelainan pada cara bicaranya. Lama-lama akan mempengaruhi sehingga ia bisa masuk dalam kategori secondary suttering. Apalagi jika si penderita tidak langsung diobati. Pada tahap gagap yang sebenarnya si penderita sudah merasa takut untuk berbicara. Dan ada pula tanda-tanda lain yang tidak diketemukan pada dua tahap sebelumnya. Pada penderita gagap selain ada gejala utamanya juga ada gejala penyertanya yang tampak dan tidak tampak.


Videbeck, Sheila. L. 2001. Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta : EGC

Gangguan komunikasi

Gangguan komunikasi didiagnosis deficit komunikasi anak cukup berat. Untuk menganggu perkembangan, prestasi disekolah, dan aktivitas hidup sehari-hari. Gangguan berbahasa ekspresif mencakup gangguan kemampuan untuk berkomunikasi melalui berbahasa verbal dan isyarat. Anak kesulitan mempelajari kata baru dan berbicara dengan kalimat yang lengkap dan jelas dan berbicara terbatas. Gangguan berbahasa represif-ekspresif campuran mencakup masalah gangguan berbahasa ekspresif dengan kesulitan menerima kata-kata dan kalimat serta menentukan maknanya. Dua gangguan itu dapat muncul saat lahir ayau saat perkembangan juga bisa akibat cedera neurologis atau cedera pada otak. Gangguan komunikasi mungkin ringan sampai berat. Dan kesulitan yang terjadi yang berlanjut sampai usia dewasa dan sangat berkaitan dengan keparahan gangguan.



Meadow, Roy., Newell, Simon. 2005. Leuctra notes pediatrika. Alih bahasa : dr. Kripti Hartini. Jakarta : Erlangga.

Perawatan untuk anak encopresis

Perawatan anak dengan enkopresis melibatkan melibatkan pendidikan dan dukungan keluarga serta terapi konstimpati yang sudah ada. Pendidikan tentang fisiologi defakasi normal, toilet training, sebagai suatu perkembangan dan garis besar terapi untuk keluarga tertentu adalah penting. Perilaku perawatan anak encopresis pada dasarnya keluarga tidak boleh menyalahkan. Dengan demikian akan mengurangi rasa bersalah dari si anak maupun orang tua. Karena orang tua dan anak merasa segan untuk menyampaikan informasi secara sukarela. Pertanyaan langsung tentang keadaan anak yang kotor akan lebih sukses. Orang tua biasanya menjadi lega setelah mengetahui bahwa orang tua lain berbagi cerita tentang masalah ini dan terkejut karena mengetahui bahwa perubahan fungsional yang terjadi setelah munculnya kondisi ini akan membuat control peembesan menjadi memungkinkan. Banyak orang tua yang mengeluh anaknya kotor karena anak tidak meluangkan waktunya untuk defekasi. Sebenarnya, anak-anak tidak mengetahui adanya sensasi awal dan tidak mampu mengontrol desakan defekasi segera setelah desakan tersebut muncul. Mereka mungkin sangat membiasakan diri dengan defekasi involunter sehingga mereka tidak mampu mencium atau mersakannya serta sering menyangkal keika peristiwa itu terjadi.



Wong, Donna.L., Hockenberry, Marylin., dkk. 2002. Buku ajar keperawatan pediatrik. Jakarta : EGC.

Encopresis

Encopresis adalah pengeluaran feses dengan konsistensi normal atau mendekati normal dengan volunter atau involunter secara berulang di tempat yang tidak sesuai untuk defekasi menurut sosiokultural individu itu sendiri. Gangguan ini terjadi bila anak dengan tak terkendali mengeluarkan feces (tinja) pada tempat-tempat yang tidak tepat, misal pakaian atau lantai. Untuk dapat didiagnosis sebagai penderita encopresis, anak sekurang-kurangnya harus berumur empat tahunkarena terdapat tahapan toilet training. Untuk mendapat kepastian bahwa simtom encopresis bukan hanya suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan, maka buang air besar secara tidak tepat itu sekurang-kurangnya terjadi sekali sebulan selama jangka waktu enam bulan.

Encopresis primer diidentifikasi pada umur 4 tahun pada waktu anak belum mencapai kontinensia fekal. Faktor prediposisinya mungkin adalah toilet training yang tidak konsisten dan stress psikososial, seperti masuk sekolah atau kelahiran adik. Gangguan ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Inkontinensia sering terjadi sebagai akibat sekunder dan kontimpasi, inpaksi dan nyeri atau retensi fese yang selanjutnya akan mengalir. Penampilan dan kehadiran disekolah terpengaruh karena bau anak yang menusuk menjadi target cemoohan teman sekelas. Hal ini yang menyebabkan anak menarik diri dari pergaulannya.

Penatalaksanaan teurapeutik terdiri atas menentukan penyebab keadaan kotor dan menggunakan intervensi yang sesuia untuk memperbaiki masalah. Intervensi dapat melibatkan perubahan diet, pengurangan impaksi fekal, dan terapi perilaku.



Meadow, Roy., Newell, Simon. 2005. Leuctra notes pediatrika. Alih bahasa : dr. Kripti Hartini. Jakarta : Erlangga.