Wong, Donna.L., Hockenberry, Marylin., dkk. 2002. Buku ajar keperawatan pediatrik. Jakarta : EGC.
Selasa, 01 Juni 2010
Perawatan untuk anak encopresis
Wong, Donna.L., Hockenberry, Marylin., dkk. 2002. Buku ajar keperawatan pediatrik. Jakarta : EGC.
Encopresis
Encopresis adalah pengeluaran feses dengan konsistensi normal atau mendekati normal dengan volunter atau involunter secara berulang di tempat yang tidak sesuai untuk defekasi menurut sosiokultural individu itu sendiri. Gangguan ini terjadi bila anak dengan tak terkendali mengeluarkan feces (tinja) pada tempat-tempat yang tidak tepat, misal pakaian atau lantai. Untuk dapat didiagnosis sebagai penderita encopresis, anak sekurang-kurangnya harus berumur empat tahunkarena terdapat tahapan toilet training. Untuk mendapat kepastian bahwa simtom encopresis bukan hanya suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan, maka buang air besar secara tidak tepat itu sekurang-kurangnya terjadi sekali sebulan selama jangka waktu enam bulan.
Encopresis primer diidentifikasi pada umur 4 tahun pada waktu anak belum mencapai kontinensia fekal. Faktor prediposisinya mungkin adalah toilet training yang tidak konsisten dan stress psikososial, seperti masuk sekolah atau kelahiran adik. Gangguan ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Inkontinensia sering terjadi sebagai akibat sekunder dan kontimpasi, inpaksi dan nyeri atau retensi fese yang selanjutnya akan mengalir. Penampilan dan kehadiran disekolah terpengaruh karena bau anak yang menusuk menjadi target cemoohan teman sekelas. Hal ini yang menyebabkan anak menarik diri dari pergaulannya.
Penatalaksanaan teurapeutik terdiri atas menentukan penyebab keadaan kotor dan menggunakan intervensi yang sesuia untuk memperbaiki masalah. Intervensi dapat melibatkan perubahan diet, pengurangan impaksi fekal, dan terapi perilaku.
Terapi untuk enuresis
Pengobatan obat-obatan tidak terlalu berguna dalam terapi enuresis nocturnal. Meski obat-obatan antidepresan triksiklik seperti impramiin dan antidieuretik seperti desmopresin mengurangi mengompol bila obat tersebut diminum. Sebagian besar mengalami relaps pada saat peminuman obat dihentikan.
Meadow, Roy., Newell, Simon. 2005. Leuctra notes pediatrika. Alih bahasa : dr. Kripti Hartini. Jakarta : Erlangga.
Beberapa hal yang menyebabkan enuresis
- Depresi, faktor yang paling berpengaruh pada anak ketika ia merasa trauma atau takut terhadap suatu objek.
- Supresi intensional, (dekondisi yang disebabkan diri sendiri) Kekacauan mental
- Delirium, keadaan yang yang bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak, dimana penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih.
- Konfusi,
- Berhubungan dengan hambatan lingkungan menuju kamar mandi sekunder akibat : toilet yang jauh, pencahayaan yang kurang, lingkungan yang asing, tempat tidur yang terlalu tinggi.
- Berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengakses kamar mandi sewaktu ingin buang air kecil : pengguanaan kafein / alcohol, gangguan mobilitas.
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan mental 2.
Meadow,
Senin, 31 Mei 2010
Enuresis diurnal (mengompol disiang hari)
Terdapat peningkatan insidensi gangguan emosional pada anak-anak yang mengompol dan disertai infeksi dibandingkan dengan anak yang hanya mengompol. Dengan pertambahan usia terdapat kecendrungan alami untuk tidak mengompol dan hal ini dipercepat dengan dengan eradikasi bakteriuria dan penatalaksanaan cepat yang memberi tanggung jawab pada anak untuk buang air lebih sering
Enuresis nocturnal
Enuresis nocturnal lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dan pada kelas sosial yang rendah. Penyebabnya bermacam-macam dan pada anak dapat disebabkan beberapa faktor. Predisposisi genetik dengan riwayat hidup yang sama merupakan penyebab yang paling sering. Keterlambatan perkembangan bisa menjadi satu faktor: pada anak yang terlambat belajar berjalan, biasanya juga terlambat mengontrol mikturisi. Kejadian-kejadian yang menimbulkan stress seperti perawatan dirumah sakit.
Kebanyakan anak yang mengalami enuresis tidak mengalami sakit psikologis maupun organik. Setiap kondisi yang menyebabkan poliuria (diabetes atau insufisiensi ginjal) atau iritasi kantong kemih dapat menyebabkan mengompol, namun mengompol jarang menjadi gejala utama penyakit-penyakit tersebut. Anak dengan enuresis hanya menjalani pemerikasaan fisik penuh.
Penatalaksanaan anak dengan enuresis merupakan segi pengobatan. Enuresis merupakan kondisi yang akan hilang dan pada sebagian besar kasus. Hukuman tidak berperan banyak sebagian anak akan menjadi cemas untuk berhenti mengompol. Pengharapan dan dorongan dapat membantu. Penggunaan obat-obatan tidak terlalu berguna dalam terapi ini. Meski obat-obatan antidepresan trisiklik dan anti diuretik dapat mengurangi mengompol.
Meadow,
Enuresis
Gangguan Eliminasi
Gangguan ini terjadi pada anak yang tidak dapat mengendalikan tingkah laku yang seharusnya sudah dapat dikendalikan sesuai tingkatan umurnya. Gangguan ini sangat menganggu orang dewasa dan orang-orang disekitarnya. Macam-macam gangguan eliminasi antara lain Enurasis dan Enkopresis.
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan mental 2.