Tampilkan postingan dengan label gangguan eliminasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gangguan eliminasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juni 2010

Perawatan untuk anak encopresis

Perawatan anak dengan enkopresis melibatkan melibatkan pendidikan dan dukungan keluarga serta terapi konstimpati yang sudah ada. Pendidikan tentang fisiologi defakasi normal, toilet training, sebagai suatu perkembangan dan garis besar terapi untuk keluarga tertentu adalah penting. Perilaku perawatan anak encopresis pada dasarnya keluarga tidak boleh menyalahkan. Dengan demikian akan mengurangi rasa bersalah dari si anak maupun orang tua. Karena orang tua dan anak merasa segan untuk menyampaikan informasi secara sukarela. Pertanyaan langsung tentang keadaan anak yang kotor akan lebih sukses. Orang tua biasanya menjadi lega setelah mengetahui bahwa orang tua lain berbagi cerita tentang masalah ini dan terkejut karena mengetahui bahwa perubahan fungsional yang terjadi setelah munculnya kondisi ini akan membuat control peembesan menjadi memungkinkan. Banyak orang tua yang mengeluh anaknya kotor karena anak tidak meluangkan waktunya untuk defekasi. Sebenarnya, anak-anak tidak mengetahui adanya sensasi awal dan tidak mampu mengontrol desakan defekasi segera setelah desakan tersebut muncul. Mereka mungkin sangat membiasakan diri dengan defekasi involunter sehingga mereka tidak mampu mencium atau mersakannya serta sering menyangkal keika peristiwa itu terjadi.



Wong, Donna.L., Hockenberry, Marylin., dkk. 2002. Buku ajar keperawatan pediatrik. Jakarta : EGC.

Encopresis

Encopresis adalah pengeluaran feses dengan konsistensi normal atau mendekati normal dengan volunter atau involunter secara berulang di tempat yang tidak sesuai untuk defekasi menurut sosiokultural individu itu sendiri. Gangguan ini terjadi bila anak dengan tak terkendali mengeluarkan feces (tinja) pada tempat-tempat yang tidak tepat, misal pakaian atau lantai. Untuk dapat didiagnosis sebagai penderita encopresis, anak sekurang-kurangnya harus berumur empat tahunkarena terdapat tahapan toilet training. Untuk mendapat kepastian bahwa simtom encopresis bukan hanya suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan, maka buang air besar secara tidak tepat itu sekurang-kurangnya terjadi sekali sebulan selama jangka waktu enam bulan.

Encopresis primer diidentifikasi pada umur 4 tahun pada waktu anak belum mencapai kontinensia fekal. Faktor prediposisinya mungkin adalah toilet training yang tidak konsisten dan stress psikososial, seperti masuk sekolah atau kelahiran adik. Gangguan ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Inkontinensia sering terjadi sebagai akibat sekunder dan kontimpasi, inpaksi dan nyeri atau retensi fese yang selanjutnya akan mengalir. Penampilan dan kehadiran disekolah terpengaruh karena bau anak yang menusuk menjadi target cemoohan teman sekelas. Hal ini yang menyebabkan anak menarik diri dari pergaulannya.

Penatalaksanaan teurapeutik terdiri atas menentukan penyebab keadaan kotor dan menggunakan intervensi yang sesuia untuk memperbaiki masalah. Intervensi dapat melibatkan perubahan diet, pengurangan impaksi fekal, dan terapi perilaku.



Meadow, Roy., Newell, Simon. 2005. Leuctra notes pediatrika. Alih bahasa : dr. Kripti Hartini. Jakarta : Erlangga.

Terapi untuk enuresis

Terapi untuk anak enuresis adalah terapi kondisional dengan alarm enuresis berguna bagi anak-anak lebih dari 7 tahun dan memiliki tingkat keberhasilan jauh lebih tinggi. Alarm hanya digunakan selama 3 bulan bahkan sampai 4 bulan. Dan membutuhkan upaya lebih keras baik dari si anak atau keluarga. Biasanya anak akan bangun sebelum mengompol kemudian ke kamar mandi atau tidur tanpa mengompol.
Pengobatan obat-obatan tidak terlalu berguna dalam terapi enuresis nocturnal. Meski obat-obatan antidepresan triksiklik seperti impramiin dan antidieuretik seperti desmopresin mengurangi mengompol bila obat tersebut diminum. Sebagian besar mengalami relaps pada saat peminuman obat dihentikan.



Meadow, Roy., Newell, Simon. 2005. Leuctra notes pediatrika. Alih bahasa : dr. Kripti Hartini. Jakarta : Erlangga.

Beberapa hal yang menyebabkan enuresis

- Depresi, faktor yang paling berpengaruh pada anak ketika ia merasa trauma atau takut terhadap suatu objek.

- Supresi intensional, (dekondisi yang disebabkan diri sendiri) Kekacauan mental

- Delirium, keadaan yang yang bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak, dimana penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih.

- Konfusi,

- Berhubungan dengan hambatan lingkungan menuju kamar mandi sekunder akibat : toilet yang jauh, pencahayaan yang kurang, lingkungan yang asing, tempat tidur yang terlalu tinggi.

- Berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengakses kamar mandi sewaktu ingin buang air kecil : pengguanaan kafein / alcohol, gangguan mobilitas.




Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan mental 2. Yogyakarta : Kanisius.

Meadow, Roy., Newell, Simon. 2005. Leuctra notes pediatrika. Alih bahasa : dr. Kripti Hartini. Jakarta : Erlangga.


Senin, 31 Mei 2010

Enuresis diurnal (mengompol disiang hari)

Sekitar 1% anak sehat berusia diatas 5 tahun mengompol disiang hari. Kebanyakan mereka tidak mengompol pada malam hari. Maslah ini lebih banyak dialami anak perempuan dan biasanya ditemukan inkontinensia urgensi. Setengah dari anak perempuan yang mengalami mengompol pada siang hari mengalami bakteriuria berulang. Bakteriuria menyebabkan ketidak stabilan kandung kemih dan inkontinensia urgeni yang meyebakan celana dalam lembab dan bau yang merupakan disposisi terhadap infeksi.
Terdapat peningkatan insidensi gangguan emosional pada anak-anak yang mengompol dan disertai infeksi dibandingkan dengan anak yang hanya mengompol. Dengan pertambahan usia terdapat kecendrungan alami untuk tidak mengompol dan hal ini dipercepat dengan dengan eradikasi bakteriuria dan penatalaksanaan cepat yang memberi tanggung jawab pada anak untuk buang air lebih sering

Enuresis nocturnal

Enuresis nocturnal lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dan pada kelas sosial yang rendah. Penyebabnya bermacam-macam dan pada anak dapat disebabkan beberapa faktor. Predisposisi genetik dengan riwayat hidup yang sama merupakan penyebab yang paling sering. Keterlambatan perkembangan bisa menjadi satu faktor: pada anak yang terlambat belajar berjalan, biasanya juga terlambat mengontrol mikturisi. Kejadian-kejadian yang menimbulkan stress seperti perawatan dirumah sakit.

Kebanyakan anak yang mengalami enuresis tidak mengalami sakit psikologis maupun organik. Setiap kondisi yang menyebabkan poliuria (diabetes atau insufisiensi ginjal) atau iritasi kantong kemih dapat menyebabkan mengompol, namun mengompol jarang menjadi gejala utama penyakit-penyakit tersebut. Anak dengan enuresis hanya menjalani pemerikasaan fisik penuh.

Penatalaksanaan anak dengan enuresis merupakan segi pengobatan. Enuresis merupakan kondisi yang akan hilang dan pada sebagian besar kasus. Hukuman tidak berperan banyak sebagian anak akan menjadi cemas untuk berhenti mengompol. Pengharapan dan dorongan dapat membantu. Penggunaan obat-obatan tidak terlalu berguna dalam terapi ini. Meski obat-obatan antidepresan trisiklik dan anti diuretik dapat mengurangi mengompol.

Meadow, Roy., Newell, Simon. 2005. Leuctra notes pediatrika. Alih bahasa : dr. Kripti Hartini. Jakarta : Erlangga.


Enuresis

Anak-anak mulai belajar untuk tidak mengompol disiang hari pada usia dua tahun dan mengompol malam hari pada usia tiga tahun. Pada usia empat tahun, 75 % anak tidak mengompol pada siang dan malam hari. Sebagian besar anak yang mengompol mengalami enuresis intermiten sangat sulit menghadapi anak usia sekolah yang yang tidak pernah tidak mengompol di malam hari. Gangguan terjadi bila anak tanpa terkendali membuang urine pada pakaian atau tempat tidur dan seharusnya dapat mengendalikan urinenya tersebut. Seseorang dikatakan enuresis apabila ia mengeluarkan air kencing sevara tidak tepat sekurang-kurangnya dua kali sebulan sesudah lima tahun atau sekurang-kurangnya sekali sebulan sesudah usia enam tahun. Enuresis merupakan gangguan eliminasi dari urine. Mengompol di malam hari (enuresis nokturnal) dan di siang hari (enuresis diurnal).

Gangguan Eliminasi


Gangguan ini terjadi pada anak yang tidak dapat mengendalikan tingkah laku yang seharusnya sudah dapat dikendalikan sesuai tingkatan umurnya. Gangguan ini sangat menganggu orang dewasa dan orang-orang disekitarnya. Macam-macam gangguan eliminasi antara lain Enurasis dan Enkopresis.


Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan mental 2. Yogyakarta : Kanisius.