Allport
1. Jelaskan pendapat Allport dalam membahas manusia!
Allport lebih optimis tentang kodrat manusia. Semangat perikemanusiaan ditanamkan dalam keluarga dimana orang tua menekankan pentingnya kerja keras dan kesalehan dan mereka membentuknya dengan suasana aman dan kasih saying. Kodrat manusia yang diungkpakan Allport adalah positif, penuh harapan, dan menyanjung-nyanjung. Ia tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan yang tak sadar. Orang-orang yang sehat menyadari sepenuhnya bahwa kekuatan –kekuatan yang membimbing mereka dan dapat mengontrol kekutan tersebut. Kepribadian yang sehat tidak dikontrol oleh trauma-trauma pada masa kanak-kanak dan diarahkan oleh intensi-intensi ke masa depan. Allport juga menggambarkan tentang orang-orang yang neurotis, mereka terikat dengan trauma-trauma masa kanak-kanak, diarahkan oleh kekuatan-kekuatan yang tidak sadar.
2. Jelaskan Perkembangan proparium sebagai dasar perkembangan kepribadian yang sehat!
Proparium dapat didefinisikan dengan memikirkan bentuk sifat ‘propariate’ seperti dalam kata ‘appropriate’. Proparium menunjuk kepada sesuatu yang dimiliki seseorang atau unik bagi seseorang. Proparium berkembang dari masa bayi sampai masa adolensi melalui tujuh tingkat “diri”.
a. Proparium Diri Jasmaniah
perasaan tentang diri bukan merupakan bagian dari warisan keturunan (hereditas). Bayi tidak dapat membedakan antara “saya” dan lingkungan sekitar. Sesuai perekembangan umur, bertambah jugalah kompleksitas belajarnya dan pengalaman-pengalaman akan semakin banyak yang harus dilalui, maka berkembanglah suatu perbedaan yang kabur antara sesuatu yang ada “dalam saya” dan hal-hal lain “diluarnya”. Kira-kira pada usia 15 bulan, muncullah tingkat pertama dari proparium diri jasmaniah.
b. Proparium Identitas Diri
Anak akan mulai sadar akan identitasnya. Mulai dari mengenali namanya, bayangan dalam cermin adalah wajah dirinya, dan perasaan tentang saya akan tetap ada dalam menghadapi pengalman yang berbeda-beda. Nama dari seseorang adalah suatu lambang untuk membedakan dirinya dengan orang lain.
c. Proparium Harga Diri
harga diri menyangkut perasaan bangga anak dari hasil belajar yang ia peroleh berdasarkan hasil usahanya. Anak ingin membuat benda-benda, memanipulasi, menyelidiki, dan memuaskan perasaan ingin tahunya tentang lingkungan. Inti dari tingkat proparium ketiga ini adalah kebutuhan anak akan anatomi. Terlihat dari tingkah laku yang negatif sekitar 2 tahu. Anak selalu melakukan tingkah laku agresif karena keingin tahuannya. Peran orang tua sangatlah penting dalam tingkatan ini, apabila orang tua menghalangi kebutuhan anak untuk menyelidiki maka perasaan harga diri yang timbul dapat dirusakkan. Sehingga akan timbul perasaan yang dihina atau marah.
d. Proparium Perluasaan Diri
mulai muncul sekitar 4 tahun. Anak mulai menyadari orang lain dan benda-benda yang ada dilingkungan sekitarnya dan fakta dalam beberapa diantaranya adalah milik ‘ku’. Anak mempelajari arti dan nilai dari milik seperti terungkap dalam kata “kepunyaanku”. Walaupun lingkup orang-orang dan benda-benda masih terbatas. Ini adalah permulaan dari kemampuan orang yang memperpanjang dan memperluas dirinya, untuk memasukkan tidak hanya benda-benda tapi juga abstraksi-abstraksi, nilai-nilai.
e. Proparium Gambaran Diri
Gambaran diri berkembang dari interaksi-interaksi antara orang tua dan anak. Melalui Reward atau Punishment, anak belajar bahwa orang tuanya mengharapkannya menjadi supaya bertingkah laku dengan baik. Dengan mempelajari harapan-harapan orang tua ini, anak mengembangkan dasar untuk suatu tanggung jawab moral serta untuk perumusan tentang tujuan-tujuan.
f. Proparim Diri sebagai Pelaku Rasional
muncul setelah anak masuk sekolah. Aturan-aturan dan harapan-harapan baru dipelajari dari guru-guru dan teman-teman sebaya yang ada disekolah, dan yang paling penting adalah aktivitas-aktivitas dan tantangan intelektual yang dihadapi. Anak dapat belajar untuk memecahkan masalah secara logis dan rasional.
g. Proparium Perjuangan
Muncul pada masa adolensi. Allport percaya pada masa ini masa yang sangat menentukan karena adolens sibuk mencari identitas diri. Tahapan adolensi adalah tahapan yang memiliki perbedaan pandangan dengan orang tuanya. Sehingga anak remaja mengadakan percobaan dengan kedok-kedok dan peranan-peranan, menguji gambaran diri, pencarian tujuan hidup untuk impian-impian jangka panjang.
3. Jelaskan Ciri kepribadian yang matang menurut Allport !
a. Perluasan Perasaan Diri
hidupnya tidak boleh terikat secara sempit pada sekumpulan aktivitas yang erat hubungannya dengan kebutuhan-kebutuhan dan kewajiban-kewajiban pokoknya. Orang harus dapat mengambil bagian dan menikmati bermacam-macam aktivitas yang berbeda-beda. Orang harus menjadi partisipan yang lansung dan penuh. Allport menamakan hal ini “partisipasi otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha manusia. Semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas atau orang atau ide, maka semakin juga ia akan sehat secara psikologis.
b. Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang Lain
Terdapat dua kapasitas yaitu: kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu. Orang yang sehat secara psikologis harus mampu memperlihatkan keintiman terhadap orang tua, anak, partner, teman akrab. Yang dapat dihasilkan dari kapasitas keintiman ini adalah perluasan perkembangan diri yang berkembang baik. Perasaan terharu, tipe kehangatan yang kedua adalah pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengn semua bangsa. Orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan-kesakitan yang merupakan cirri kehidupan manusia. Hasil dari kapasitas untuk perasaan terharu adalah kepribadian yang matang sabar terhadap tingkah laku orang-orang lain dan tidak menghakimi dan menghukumnya.
c. Keamanan Emosional
kepribadian yang sehat juga mampu menerima emosi manusia, mereka bukan tawanan dari emosi mereka danmereka juga tidak berusaha bersembunyi dari emosi itu. Kualitas dari keamanan emosional adalah apa yang disebut “sabar terhadap kekecewaan”. Hal ini menunjukkan bagaimana seseorang bereaksi terhadap tekanan dan terhadap hambatan dari kemauan-kemauan. Orang-orang yang matang tidak dapat begitu sabar terhadap kekecewaan, tidak hanya begitu menerima diri, atau tidak dapat begitu banyak mengontrol emosi mereka.
d. Persepsi Realistis
Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif, orang-orang yang neurotis mengubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Orang-orang yang sehat tida perlu percaya bahwa situasi-situasi semuanya jahat. Mereka menerima realitas sebagaimana adaanya.
e. Keterampilan dan Tugas
Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukan perkembangan keterampilan dan bakat-bakat tertentu pada tingkat kemampuan. Allport mengemukakan ada kemungkinan orang-orang yang memilki keterampilan menjadi neurotis. Akan tetapi tidak mungkin menemukan orang-orang yang sehat dan matang yang tidak mengarahkan keterampilan mereka pada pekerjaan mereka. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan konstinuitas untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikolgis yang sehat tanpa melakukan pekerjaan yang penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen, dan keterampilan.
f. Pemahaman Diri
Pengenalan diri yang memadai menuntut pemahaman tentang hubungan antara penggambaran diri yang dimiliki seseorang dengan keadaan yang sesungguhnya. Semakin dekat hubungan antara kedua gagasan ini, individu akan semakin matang. Hubungan lain yang penting adalah hubungan antara apa yang dipikirkan orang-orang lain tentang dirinya itu. Orang yang sehat terbuka dengan pendapat orang lain merumuskan suatu gambaran diri yang objektif. Orang yang mempunyai pemahaman diri yang tinggi tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negative kepada orang-orang lain.
g. Filsafat Hidup yang Mempersatukan
Dorongan yang mempersatukan adalah “arah” dan lebih kelihatan pada pribadi yang sehat. Arah itu membimbing semua segi kehidupan seseorang yang menuju suatu tujuan serta memberikan orang itu alas an untuk hidup. Nilai-nilai mungkin berhubungan dengan diri sendiri. Suara hati juga ikut andil dalam suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Suara hati yang matang adalah perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada orang-orang lain dan mungkin berakar dari nilai agama dan nilai etnis.
Rogers
1. Jelaskan kepribadian self atau diri menurut Rogers!
Menurut Rogers, hal-hal yang berpengaruh terhadap kepribadian manusia, yaitu : 1) memiliki kemampuan untuk menyadari dirinya sendiri dan kemampuan untuk mengambil pilihan pada setiap peristiwa, 2) memiliki gagasan bahwa pria dan wanita adalah dalam proses “menjadi” 3) memiliki kemampuan untuk mengambil jaraknya terhadap diri / merefleksikan diri. Setiap pribadi membutuhkan aktualisasi diri. Aktualisasi diri terkait dengan relasi saling mencintai, cinta sebagai unsure penting memberikan suasanan untuk dapat mengaktualisasikan dirinya secara penuh. Kepribadian seseorang akan sehat apabila mendapat pengertian dan empati yang tepat, perhatia dan penghargaan positif tanpa syarat. Menurut Rogers manusia yang sadar dan rasional tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Hal-hal itu tidak menghukm atau mengutuk kita untuk hidup dalam konflik yang tidak dapat kita kontrol. Rogers mengungkapkan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mepengaruhi cara bagaimana kita memandang masa sekarang yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis kita.
2. Peranan positive regard dalam kepribadian individu !
Positive regard adalah cara-cara khusus bagaimana diri itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau tidak bergantung pada cinta yang diterima anak itu pada masa kecil. Pada waktu diri individu itu juga belajar menumbuhkan cinta. Rogers menyebut kebutuhan ini sebagau penghargaan positif atau positive regard. Positive regard sangat erat hubungannya dengan peranan mengembangkan konsep diri dari orang-orang disekitarnya, kebutuhan memperoleh penghargaanyang positif, memperoleh cinta dan persepsi-persepsi yang penting akan sangat berpengaruh pada konsep diri yang positif dan sehat. Penghargaan positif juga bisa mengerahkan energi dan pikiran. Anak harus bekerja keras untuk positive regard dengan mengorbankan aktualisasi diri.
3. sebutkan dan jelaskan cirri-ciri orang yang sepenuhnya menurut Rogers !
a. Keterbukaan pada Pengalaman
Kepribadian haruslah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikn oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan persepsi dan ungkapan baru. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih emosional dalam arti mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif dan mengalami emosi-emosi itu lebih kuatdaripad orang yang defensive.
b. Kehidupan Eksistensial
Rogers percaya kualitas dari kehidupan eksistensi ini merupakan segi yang sangat esensial dari kepribadian yang sehat. Kepribadian terbuka kepada segala sesuatu yang terjadi pada moment itu dan dia menemukan dalam setiap pengalaman suatu sturktur yang berubahdengan mdah sebagai respon atas pengalaman kejadian sebelumnya.
c. Kepercayaan terhadap Organisme Orang Sendiri
Bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar adalah pedoman yang sangat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan, lebih dapat dipercaya daripada rasio dan intelektual. Semua segi organisme yaitu : sadar, tidak sadar, emosional dan intelektual harus dianalisis dalam kaitannya dengan masalah yang ada. Karena data yang digunakan untuk mencapai suatu keputusan adalah tepat dank arena seluruh kepribadian mengambil bagian dalam proses membuat keputusan, maka orang-orang yang sehat percaya akan keputusan mereka seperti percaya dengan diri sendiri.
d. Perasaan Bebas
Orang yang sehat adalah orang yang dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan antara pikiran dan tindakan. Dan orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadimengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada diri sendiri, tidak diatur tingkah laku, keadaan, peristiwa masa lampau. Sehingga memiliki banyak pilihan dalam hidup dan merasa mampu melakukan apa saja yang mungkin ingin dilakukannya.
e. Kreativitas
Manusia yang berfungsi secara sepenuhnya adalah sangatlah kreatif. orang-orang yang terbuka sepenuhnya kepada semua pengalaman yang percaya akan organisme mereka sendiri yang fleksibel dalam keputusan serta tindakan mereka ialah orang-orang sebagaimana diungkapkan Rogers yang akan mengungkapkan dirimereka dalam produk-produk yang kreatif dan kehidupan yang kreatif dalam semua kehidupan mereka. Tingkah laku spontan,berubah,bertumbuh, dan berkembang sebagai respon atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam. Orang-orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menyesuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam kondisi-kondisi lingkungan. Mereka punya kreativitas dan spontanitas untuk menggulangi perubahan traumatis. Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah barisan depan yang layak.
Referensi :
Riyanto, Theo. 2006. Jadikan Hidupmu Bahagia. Yogyakarta : Kanisius.
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Alih bahasa : Yustinus. Yogyakarta : Kanisius.
Minggu, 25 Oktober 2009
Minggu, 11 Oktober 2009
Kritikan Humanistik Terhadap Psikoanalisa dan Behaviorisme
2. Kritikan Humanistik terhadap Psikoanalisa dan Behaviorisme
Humanistik menolak dua pendekatan psikologi yang dominan yaitu psikoanalisis dan behaviorisme. Para humanis menganggap psikoanalisis yang menekankan pada dorongan seksual dan agresi yang berbahaya, memiliki pandangan yang pesimis mengenai hakikat manusia. Behaviorime dianggap mengabaikan kapasitas manusia untuk bergembira. Para humanis juga mnganggap behaviorisme mengabaikan hal-hal yang benar – benar penting bagi kebanyakan orang. Seperti keunikan, harapan, dan keinginan. Para humanis menganggap behaviorisme yang menekankan pada tindakan yang terobservasi yang pendekatannya yang terlalu mekanistik dan mengabaikan hakikat manusia. Dalam pandangan humanistic, perilaku manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh konflik yang tidak disadari maupun oleh lingkungan manusia yang mempunyai kehendak bebas sehingga memiliki kemampuan untuk berbat lebih banyak bagi dirinya, lebih dari yang diprediksikan oleh psikoanalisis atau behaviori. Tujuan psikologi humanis adalah membantu manusia untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif dan merealisasikan potensinya secara utuh. Psikologi humanistik sangat menghormati kebebasan individu. Ia bertujuan untuk memprediksikan dan mengendalikan hidupnya secara lebih baik.
Referensi :
Wade, Carole., Tavris, Carol. 2008. Pengantar Psikologi Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Hall, Cavin., Lindzey, Gardner. 1993. Teori-teori Pskikodinamik 2. Alih bahasa : Yustinus. Yogyakarta : Kanisius.
Gracia Hutami Putri
2PA05
10508095
Humanistik menolak dua pendekatan psikologi yang dominan yaitu psikoanalisis dan behaviorisme. Para humanis menganggap psikoanalisis yang menekankan pada dorongan seksual dan agresi yang berbahaya, memiliki pandangan yang pesimis mengenai hakikat manusia. Behaviorime dianggap mengabaikan kapasitas manusia untuk bergembira. Para humanis juga mnganggap behaviorisme mengabaikan hal-hal yang benar – benar penting bagi kebanyakan orang. Seperti keunikan, harapan, dan keinginan. Para humanis menganggap behaviorisme yang menekankan pada tindakan yang terobservasi yang pendekatannya yang terlalu mekanistik dan mengabaikan hakikat manusia. Dalam pandangan humanistic, perilaku manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh konflik yang tidak disadari maupun oleh lingkungan manusia yang mempunyai kehendak bebas sehingga memiliki kemampuan untuk berbat lebih banyak bagi dirinya, lebih dari yang diprediksikan oleh psikoanalisis atau behaviori. Tujuan psikologi humanis adalah membantu manusia untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif dan merealisasikan potensinya secara utuh. Psikologi humanistik sangat menghormati kebebasan individu. Ia bertujuan untuk memprediksikan dan mengendalikan hidupnya secara lebih baik.
Referensi :
Wade, Carole., Tavris, Carol. 2008. Pengantar Psikologi Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Hall, Cavin., Lindzey, Gardner. 1993. Teori-teori Pskikodinamik 2. Alih bahasa : Yustinus. Yogyakarta : Kanisius.
Gracia Hutami Putri
2PA05
10508095
Perbedaan Psikoanalisa, Behaviorisme, dan Humanistik
1. Perbedaan Psikoanalisis dengan Behavior dan Humanistik
a. Perbedaan berdasarkan Fokusnya
Psikoanalisis memfokuskan perhatiannya kepada totalitas kepribadian manusia, bukan kepada bagian-bagiannya yang terpisah. Seperti tubuh jasmani yang mempunyai struktur : kepala, kaki, lengan dan tubuh, Sigmund Frued, berkeyakinan bahwa jiwa manusia juga mempunyai struktur, walaupun tidak terdiri dari ruangan.
Behaviorisme berfokus pada lingkungan dan pengalaman. Pengaruh lingkungan terhadap perilaku yang dapat diobservasi, bukan melalui proses mental yang kelihatan, peniruan dan sejumlah kepercayaan dan nilai. Ia juga memandang psikologi sebagi suatu studi tentang tingkah laku dan menjelaskan belajar sebagai suatu sistem respon tingkah laku terhadap rangsangan fisik. Menggunakan paradigma dari suatu reinforcement (penguatan). Pendekatan behavorisme memberi tekanan bagaimana peserta didik membuat pengalaman dan perilakunya. Salah satu pendekatannya yang paling awal adalah pengkondisian klasik.
Humanistik berfokus pada keyakinan para individu dimotivasikan oleh pertumbuhan positif kearah kesempurnaan, keunikan pribadi, dan kepenuhan diri sendiri. Dengan kata lain humanis berpendapat bahwa individu tidak didorong dari kekuatan dari bawah ataupun dari luar, melainkan individu didorong untuk keatas. Yaitu pada suatu keadaan perkembangan pribadi yang lebih tinggi. Pada hakikatnya pandangan humanistic lebih bersifat positif dan optimistik tentang perkembangan manusia dibanding dengan teori yang lain. Rogers menyebut dirinya sebagai salah orang yang berpandangan humanistik dalam psikologi kontemporer psikologi humanistik menetang apa yang disebut pesimisme.
b. cara memandang manusia
Psikoanalisis berpendapat stuktur jiwa sendiri memiliki suatu sistem. Dan sistem itu terdpat tiga bagiannya, diantaranya : Id, Ego, dan Superego. Id (Das Es) adalah aspek yang termasuk kedalam aspek biologis dan merupakan sistem yang original didalam kepribadian dari aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh. Das es berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir. Ego (Das Ich) adalah aspek kedua yaitu yang berkaitan dengn aspek psikologis daripada kepribadian yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia nyata. Didalam fungsinya das ich berpegang pada “ prinsip kenyataan”. Das ich juga dipandang sebagai aspek eksekutif kepribadian, oleh sebab itu das ich mengontrol jalan-jalan yang ditempuh, memiliki kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi serta cara-cara memenuhinya, memilih objek-objek yang apat memenuhi kebutuhan. Superego (Das Ueber Ich) adalah aspek ketiga yang berkaitan dengan sosiologi kepribadian yang merupakn wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagimana ditafsirkan orang tua terhadap anak-anak yang dimasukkan dengan berbagai perintah dan larangan. Fungsinya yang pokok adalah menentukan apakah sesuatu itu benar atau salah dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat.
Behaviorisme Ia melihat manusia sebagai “kotak hitam” yang akan merespon terhadap rangsanagn yang boleh diperhatikan dan diukur.terdapat konsep bahwa manusia adalah robot.
Humanistik Ia yakin setiap individu terdapat potensi-potensi untuk tumbuh menjadi sehat dan kreatif. kegagalan dalam mewujudkan potensi-potensi ini disebabkan oleh pengaruh yang bersifat menjerat dan keliru dari latihan yang diberikan oleh orang tua dan pengaruh-pengaruh sosial lainnya.
c. cara pandang tentang potensi manusia
Psikoanalisa lebih bersifat pesimisme suram, yang berarti mengulik seseorang untuk mengingat masa lalunya atau luka batin yang pernah dialami. Tidak memperhatikan potensi-potensi dalam individu. Lebih banyak memusatkan pada tentang masa lalu daripada masa depan.
Behaviorisme juga tidak memperhatikan potensi-potensi manusia. Hanya memusatkan proses pembelajaran manusia.
Humanistik memperhatikan potensi-potensi yang ada, optimis dan positif. Itu adalah cirri khas dari aliran ini. Humanistic ingin agar manusia bisa melihat masa depan untuk mengembangkan daya kreativitas yang ada pada masing-masing individu.
Referensi :
Satiadarma, Monthy., Waruwu, Fidelis., Wandasari, Yettie., dkk. 2004. Jurnal Provitae. Jakarta : Obor Indonesia.
Goble, Frank. 1987. Mazhab ketiga. Yogyakarta : Kanisius.
Wade, Carole., Tavris, Carol. 2008. Pengantar Psikologi Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Hall, Cavin., Lindzey, Gardner. 1993. Teori-teori Pskikodinamik. Alih bahasa : Yustinus. Yogyakarta : Kanisius.
Gracia Hutami Putri
2PA05
10508095
a. Perbedaan berdasarkan Fokusnya
Psikoanalisis memfokuskan perhatiannya kepada totalitas kepribadian manusia, bukan kepada bagian-bagiannya yang terpisah. Seperti tubuh jasmani yang mempunyai struktur : kepala, kaki, lengan dan tubuh, Sigmund Frued, berkeyakinan bahwa jiwa manusia juga mempunyai struktur, walaupun tidak terdiri dari ruangan.
Behaviorisme berfokus pada lingkungan dan pengalaman. Pengaruh lingkungan terhadap perilaku yang dapat diobservasi, bukan melalui proses mental yang kelihatan, peniruan dan sejumlah kepercayaan dan nilai. Ia juga memandang psikologi sebagi suatu studi tentang tingkah laku dan menjelaskan belajar sebagai suatu sistem respon tingkah laku terhadap rangsangan fisik. Menggunakan paradigma dari suatu reinforcement (penguatan). Pendekatan behavorisme memberi tekanan bagaimana peserta didik membuat pengalaman dan perilakunya. Salah satu pendekatannya yang paling awal adalah pengkondisian klasik.
Humanistik berfokus pada keyakinan para individu dimotivasikan oleh pertumbuhan positif kearah kesempurnaan, keunikan pribadi, dan kepenuhan diri sendiri. Dengan kata lain humanis berpendapat bahwa individu tidak didorong dari kekuatan dari bawah ataupun dari luar, melainkan individu didorong untuk keatas. Yaitu pada suatu keadaan perkembangan pribadi yang lebih tinggi. Pada hakikatnya pandangan humanistic lebih bersifat positif dan optimistik tentang perkembangan manusia dibanding dengan teori yang lain. Rogers menyebut dirinya sebagai salah orang yang berpandangan humanistik dalam psikologi kontemporer psikologi humanistik menetang apa yang disebut pesimisme.
b. cara memandang manusia
Psikoanalisis berpendapat stuktur jiwa sendiri memiliki suatu sistem. Dan sistem itu terdpat tiga bagiannya, diantaranya : Id, Ego, dan Superego. Id (Das Es) adalah aspek yang termasuk kedalam aspek biologis dan merupakan sistem yang original didalam kepribadian dari aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh. Das es berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir. Ego (Das Ich) adalah aspek kedua yaitu yang berkaitan dengn aspek psikologis daripada kepribadian yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia nyata. Didalam fungsinya das ich berpegang pada “ prinsip kenyataan”. Das ich juga dipandang sebagai aspek eksekutif kepribadian, oleh sebab itu das ich mengontrol jalan-jalan yang ditempuh, memiliki kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi serta cara-cara memenuhinya, memilih objek-objek yang apat memenuhi kebutuhan. Superego (Das Ueber Ich) adalah aspek ketiga yang berkaitan dengan sosiologi kepribadian yang merupakn wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagimana ditafsirkan orang tua terhadap anak-anak yang dimasukkan dengan berbagai perintah dan larangan. Fungsinya yang pokok adalah menentukan apakah sesuatu itu benar atau salah dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat.
Behaviorisme Ia melihat manusia sebagai “kotak hitam” yang akan merespon terhadap rangsanagn yang boleh diperhatikan dan diukur.terdapat konsep bahwa manusia adalah robot.
Humanistik Ia yakin setiap individu terdapat potensi-potensi untuk tumbuh menjadi sehat dan kreatif. kegagalan dalam mewujudkan potensi-potensi ini disebabkan oleh pengaruh yang bersifat menjerat dan keliru dari latihan yang diberikan oleh orang tua dan pengaruh-pengaruh sosial lainnya.
c. cara pandang tentang potensi manusia
Psikoanalisa lebih bersifat pesimisme suram, yang berarti mengulik seseorang untuk mengingat masa lalunya atau luka batin yang pernah dialami. Tidak memperhatikan potensi-potensi dalam individu. Lebih banyak memusatkan pada tentang masa lalu daripada masa depan.
Behaviorisme juga tidak memperhatikan potensi-potensi manusia. Hanya memusatkan proses pembelajaran manusia.
Humanistik memperhatikan potensi-potensi yang ada, optimis dan positif. Itu adalah cirri khas dari aliran ini. Humanistic ingin agar manusia bisa melihat masa depan untuk mengembangkan daya kreativitas yang ada pada masing-masing individu.
Referensi :
Satiadarma, Monthy., Waruwu, Fidelis., Wandasari, Yettie., dkk. 2004. Jurnal Provitae. Jakarta : Obor Indonesia.
Goble, Frank. 1987. Mazhab ketiga. Yogyakarta : Kanisius.
Wade, Carole., Tavris, Carol. 2008. Pengantar Psikologi Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Hall, Cavin., Lindzey, Gardner. 1993. Teori-teori Pskikodinamik. Alih bahasa : Yustinus. Yogyakarta : Kanisius.
Gracia Hutami Putri
2PA05
10508095
Rabu, 30 September 2009
Kesehatan Mental Perbedaan Psikoanalisa Freud dengan Psikososial Erikson
1. ide kunci Psikoanalisis dan ide kunci Psikososial
Ide kunci Psikoanalisis adalah bahwa mereka bersembunyi dri kesadaran individual, dengan kata lain mereka tidak disadari. Dorongan dari ketidaksadaran yang muncul dari perilaku dan pikiran (unconscious motivation).
sedangkan Psikososial ide kunci yang dimilikinya adalah perkembangan pada pengaruh social budaya di lingkungan individu. Meski teori dari Erikson sendiri dipengaruhi dari psikoanalisa Freud yaitu Libido.
2. Perkembangan Psikoseksual dan Psikososial
Dalam teori ini Freudian adalah rangkaian tahapan perkembangan karakter selama masa bayi, anak-anak, dan remaja, dimana kenikmatan akan berubah dari mulut ke genital.
Dalam teori psikososial Erikson mencakup delapan tahap sepanjang rentan kehidupan. erikson menyatakan bahwa perkembangan ego bersifat seumur hidup. Dia mengaplikasikan teorinya kepada public figure.
3. Tahapan psikoseksual Freud dan psikososial Erikson
• Tahapan Psikoseksual
a. Oral (12-18 bulan)
Sumber kenikmatan utama bayi melibatkan aktivitas berorientasi mulut(menghisap dan menelan). Hubungan social lebih bersifat fisik. Seperti makan, dan minum susu. Obyek social terdekat adalah ibu.
b. Anal (12-18 bulan sampai 3 tahun)
Anak mendapat kepuasan seksual dengan menahan atau melepaskan feses. Zona kepuasaan adalah daerah anal dan toilet training yang merupakan aktivitas penting. Pada masa ini anak sudah mampu bertanggung jawab atas beberapa kegiatan tertentu.
c. Falik ( 3 tahun- 6 tahun)
Anak menjadi lengket dengan orang tua dari jenis kelamin berlainan dan kemudian mengidentifikasikannya dengan orang tua berjenis kelamin sama. Oedipus complex, pada anak laki-laki keterdekatan dengan ibunya menimbulkan gairah seksual dan perasaan cinta. Tapi persaan ini terhalang dengan adanya tokoh ayah. Kompleks ini kemudian diikuti oleh kecemasan kastrasi (takut dipotong alat kelaminnya) sehingga menimbulkan perilaku menurut dan meniru tindak tanduk saingannya.
d. Laten ( 6 tahun sampai pubertas)
Masa relative tenang diantara tahapan-tahapan yang lebih bergelora. Kecemasan dan ketakutan yang timbul pada masa-masa sebelumnya ditekan. Anak laki-laki lebih banyak bergaul dengan teman sejenis begitu pula anak perempuan. Oleh Karena itu, fase ini disebut dengan periode homoseksual alamiah. Anak mencari figure ideal diantara orang dewasa berjenis kelamin sama.
e. Genital ( pubertas sampai dewasa)
Kemunculan kembali dorongan seksual tahap falik disalurkan kepada kematangan seksualitas masa remaja. Energi psikis disalurkan untuk hubungan-hubungan heteroseksual. Rasa cintanya pad anggota keluarga dialihkan pada orang lain yang berlawanan jenis.
• Tahapan Psikososial
a. Basic Trust vs Basic mistrust ( lahir sampai 12 -18 bulan)
Bayi mengem,bangkan persaan bahwa dunia merupakan tempat yang aman dan baik. Bila rasa aman dipenuhi maka anak akan mengembangkan dasar-dasar kepercayaan padalingkungan. Jika terganggu, tidaaaak pernah merasakan kasih sayang, akan menimbulkan ketidak percayaan. Ibu memegang peranan penting.
b. Autonomi vs Shame and Doubt ( 12-18 bulan- 3 tahun)
Anak mengembangkan keseimbangan independent dan kepuasaan diri terhadap rasa malu dan keraguan.
c. Inisiative vs Guilt ( 3 hingga 6 tahun)
Anak mengembangkan inisitif ketika mencoba aktivitas baru dan tida terlalu membebani oleh rasa bersalah. Tetapi ketika tahap sebelumnya ia mengembangkan perasaan ragu-ragu, maka ia akan merasa bersalah an tidak berani melakukannya lagi.
d. Industri vs Inferiority ( 6 tahun hingga pubertas)
Anak belajar keterampilan budaya atau menghadapi perasaan tidak kompeten. Anak sudah mampu berpikiran logis dan sudah bersekolah. Konfilk yang dihadapi pada tahap ini adalah perasaan sebagai seseorang yang mampu vs rendah diri. Bila tuntutan-tuntutan bisa dipenuhi akan menimbulkan percaya diri tapi bila tidak akan menimbulkan rendah diri.
e. Identity vs Role Confusion ( pubertas sampai dewasa awal)
Anak harus mulai memutuskan bagaimana masa depannya. Konflik yang dihadapi adalah bila mampu berhasil pada tahap-tahap sebelumnya, maka ia akan menemukan dirinya. Bila sebaliknya akan merasakan kekaburan pesan.
f. Intimacy vs Isolation ( dewasa awal)
Individu mulai membuat komitmen dengan orang lain, apabila tidak sukses mak ia akan menderita isolasi dan pemisahan diri.
g. Generativity vs Self-Absortion ( dewasa tengah)
Perhatian orang dewasa yang sudah matamg adlah membangun dan membimbing generasi selanjutnya atau merasa tidak percaya diri.
h. Ego vs Despair ( dewasa akhir)
Individu akan menengok masa lalu. Kepuasan akan prestasi dan tindakan-tindakannya dimasa lalu akan menimbulkan perasaan puas. Bila ia merasa semuanya belum siap atau gagal, akan timbul kekecewaan yang mendalam.
4. tentang teori id, ego dan superego
Freud mempresentasikan sejumlah definisi tentang sistem interaksi dari kepribadian id, ego, dan superego yang merupakan sumbangan pada perspekstif baru dalam struktur dan fungsi jiwa. Ego dijelaskan bersifat tunduk pada perilaku-perilaku dari id dan superego, tetapi ia juga percaya dengan banyak fungsi lain yang penting, seperti misalnya pengujian realitas dan kontrol penggerak perilaku. Dengan demikian pandangan Freud sebelumnya kontradiksi bahwa ego merupakan yang terlemah dari tiga agen mental tersebut Erik Erikson yang mempresentasikan teori fungsi ego, perluasan dan perpanjangan tentang konsep-konsep psikoanalisis klasik. Bagi Erikson, pendekatan ego merupakan mode yang kreatif, diadaptasikan pada keadaan sekitar atau menemukan cara-cara untuk mengubah keadaan sekitarnya.
Referensi :
Papalia, Diane E., Old, Sally. 2008. Human development ( jilid ke sembilan ). Alih bahasa : A.K Anwar. Jakarta : Kencana.
Riyanti, Dwi., Prabowo, Hendro. 1996. Psikologi Umum 1. Jakarta : Falkutas Psikologi Gunadarma.
Ide kunci Psikoanalisis adalah bahwa mereka bersembunyi dri kesadaran individual, dengan kata lain mereka tidak disadari. Dorongan dari ketidaksadaran yang muncul dari perilaku dan pikiran (unconscious motivation).
sedangkan Psikososial ide kunci yang dimilikinya adalah perkembangan pada pengaruh social budaya di lingkungan individu. Meski teori dari Erikson sendiri dipengaruhi dari psikoanalisa Freud yaitu Libido.
2. Perkembangan Psikoseksual dan Psikososial
Dalam teori ini Freudian adalah rangkaian tahapan perkembangan karakter selama masa bayi, anak-anak, dan remaja, dimana kenikmatan akan berubah dari mulut ke genital.
Dalam teori psikososial Erikson mencakup delapan tahap sepanjang rentan kehidupan. erikson menyatakan bahwa perkembangan ego bersifat seumur hidup. Dia mengaplikasikan teorinya kepada public figure.
3. Tahapan psikoseksual Freud dan psikososial Erikson
• Tahapan Psikoseksual
a. Oral (12-18 bulan)
Sumber kenikmatan utama bayi melibatkan aktivitas berorientasi mulut(menghisap dan menelan). Hubungan social lebih bersifat fisik. Seperti makan, dan minum susu. Obyek social terdekat adalah ibu.
b. Anal (12-18 bulan sampai 3 tahun)
Anak mendapat kepuasan seksual dengan menahan atau melepaskan feses. Zona kepuasaan adalah daerah anal dan toilet training yang merupakan aktivitas penting. Pada masa ini anak sudah mampu bertanggung jawab atas beberapa kegiatan tertentu.
c. Falik ( 3 tahun- 6 tahun)
Anak menjadi lengket dengan orang tua dari jenis kelamin berlainan dan kemudian mengidentifikasikannya dengan orang tua berjenis kelamin sama. Oedipus complex, pada anak laki-laki keterdekatan dengan ibunya menimbulkan gairah seksual dan perasaan cinta. Tapi persaan ini terhalang dengan adanya tokoh ayah. Kompleks ini kemudian diikuti oleh kecemasan kastrasi (takut dipotong alat kelaminnya) sehingga menimbulkan perilaku menurut dan meniru tindak tanduk saingannya.
d. Laten ( 6 tahun sampai pubertas)
Masa relative tenang diantara tahapan-tahapan yang lebih bergelora. Kecemasan dan ketakutan yang timbul pada masa-masa sebelumnya ditekan. Anak laki-laki lebih banyak bergaul dengan teman sejenis begitu pula anak perempuan. Oleh Karena itu, fase ini disebut dengan periode homoseksual alamiah. Anak mencari figure ideal diantara orang dewasa berjenis kelamin sama.
e. Genital ( pubertas sampai dewasa)
Kemunculan kembali dorongan seksual tahap falik disalurkan kepada kematangan seksualitas masa remaja. Energi psikis disalurkan untuk hubungan-hubungan heteroseksual. Rasa cintanya pad anggota keluarga dialihkan pada orang lain yang berlawanan jenis.
• Tahapan Psikososial
a. Basic Trust vs Basic mistrust ( lahir sampai 12 -18 bulan)
Bayi mengem,bangkan persaan bahwa dunia merupakan tempat yang aman dan baik. Bila rasa aman dipenuhi maka anak akan mengembangkan dasar-dasar kepercayaan padalingkungan. Jika terganggu, tidaaaak pernah merasakan kasih sayang, akan menimbulkan ketidak percayaan. Ibu memegang peranan penting.
b. Autonomi vs Shame and Doubt ( 12-18 bulan- 3 tahun)
Anak mengembangkan keseimbangan independent dan kepuasaan diri terhadap rasa malu dan keraguan.
c. Inisiative vs Guilt ( 3 hingga 6 tahun)
Anak mengembangkan inisitif ketika mencoba aktivitas baru dan tida terlalu membebani oleh rasa bersalah. Tetapi ketika tahap sebelumnya ia mengembangkan perasaan ragu-ragu, maka ia akan merasa bersalah an tidak berani melakukannya lagi.
d. Industri vs Inferiority ( 6 tahun hingga pubertas)
Anak belajar keterampilan budaya atau menghadapi perasaan tidak kompeten. Anak sudah mampu berpikiran logis dan sudah bersekolah. Konfilk yang dihadapi pada tahap ini adalah perasaan sebagai seseorang yang mampu vs rendah diri. Bila tuntutan-tuntutan bisa dipenuhi akan menimbulkan percaya diri tapi bila tidak akan menimbulkan rendah diri.
e. Identity vs Role Confusion ( pubertas sampai dewasa awal)
Anak harus mulai memutuskan bagaimana masa depannya. Konflik yang dihadapi adalah bila mampu berhasil pada tahap-tahap sebelumnya, maka ia akan menemukan dirinya. Bila sebaliknya akan merasakan kekaburan pesan.
f. Intimacy vs Isolation ( dewasa awal)
Individu mulai membuat komitmen dengan orang lain, apabila tidak sukses mak ia akan menderita isolasi dan pemisahan diri.
g. Generativity vs Self-Absortion ( dewasa tengah)
Perhatian orang dewasa yang sudah matamg adlah membangun dan membimbing generasi selanjutnya atau merasa tidak percaya diri.
h. Ego vs Despair ( dewasa akhir)
Individu akan menengok masa lalu. Kepuasan akan prestasi dan tindakan-tindakannya dimasa lalu akan menimbulkan perasaan puas. Bila ia merasa semuanya belum siap atau gagal, akan timbul kekecewaan yang mendalam.
4. tentang teori id, ego dan superego
Freud mempresentasikan sejumlah definisi tentang sistem interaksi dari kepribadian id, ego, dan superego yang merupakan sumbangan pada perspekstif baru dalam struktur dan fungsi jiwa. Ego dijelaskan bersifat tunduk pada perilaku-perilaku dari id dan superego, tetapi ia juga percaya dengan banyak fungsi lain yang penting, seperti misalnya pengujian realitas dan kontrol penggerak perilaku. Dengan demikian pandangan Freud sebelumnya kontradiksi bahwa ego merupakan yang terlemah dari tiga agen mental tersebut Erik Erikson yang mempresentasikan teori fungsi ego, perluasan dan perpanjangan tentang konsep-konsep psikoanalisis klasik. Bagi Erikson, pendekatan ego merupakan mode yang kreatif, diadaptasikan pada keadaan sekitar atau menemukan cara-cara untuk mengubah keadaan sekitarnya.
Referensi :
Papalia, Diane E., Old, Sally. 2008. Human development ( jilid ke sembilan ). Alih bahasa : A.K Anwar. Jakarta : Kencana.
Riyanti, Dwi., Prabowo, Hendro. 1996. Psikologi Umum 1. Jakarta : Falkutas Psikologi Gunadarma.
Selasa, 29 September 2009
Langganan:
Komentar (Atom)